KAPEKA

LOGO kapeka

Kiprah Komunitas Pecinta Kajoetangan
Di Kota Malang ada komunitas yang dinamakan KPK. Tetapi tunggu, KPK bukan berarti Komisi Pemberantasan Korupsi, tetapi KPK yang ini adalah kependekan dari Komunitas Pecinta Kajoetangan. Kayutangan (Kajoetangan) adalah sebuah wilayah legendaris di Kota Malang yang konon merupakan pusat kegiatan seni kawula muda di era 60-an hingga akhir 70-an. Kawasan ini waktu itu tak ubahnya seperti Malioboro di Yogyakarta atau Orchard Road di Singapura.
Adalah Pongky Pamungkas, Agus Saksono, Hengky Herwanto, Lutfi Wibisono, Retno Mastuti, dan Rudi Widiastuti yang dengan semangat membara ingin mengembalikan Malang sebagai kota barometer musik tanah air melalui pembentukan KPK. Ya, KPK dibentuk dengan tujuan untuk menggelar kegiatan-kegiatan yang bersifat membangkitkan kembali eforia musik di Malang pada era 70-an.
Retno Mastuti, salah satu pendiri KPK, ditemui di rumahnya yang asri di Jalan Gladiol mengaku legenda musik Malang tahun 70-an masih lekat dirasakan hingga sekarang, tetapi dari sisi industri musik nasional, peran Malang jauh menurun dibandingkan era tersebut. ”Sekarang ini industri musik nasional dikuasai oleh musisi dari Jakarta dan bandung. Beda dengan dulu, musisi Malang sangat disegani di blantika musik tanah air. Nah, kami ingin KPK ini setidaknya bisa berperan dalam mengembalikan eforia tersebut sekarang,” katanya.
Perempuan parobaya yang masih suka menggunakan bahasa khas Malangan dalam berkomunikasi tidak resmi tersebut mengaku, dari sisi sumberdaya musik, mulai Kota Batu, kota malang, hingga Kabupaten Malang bertaburan musisi andal yang tergabung dalam setidaknya 200 grup musik. ”Tetapi sayang, kata seorang penyiar radio, kebanyakan lagu-lagu mereka tidak enak didengar dan susah dinikmati. Karakter anak Malang juga cenderung bermain musik sesuai dengan seleranya sendiri, dan sulit menyesuaikan diri dengan pasar,” kata Retno, sembari menambahkan untuk menggelorakan kembali musik Malang, KPK telah menggelar Festival Band Malang Raya 2010 yang diikuti 200 lebih band.
Perjalanan awak KPK tidak berhenti hanya sampai pada mengadakan konser dan membentuk KPK itu sendiri. Mereka masih mempunyai kerinduan lain yang mungkin sedikit bisa mengobati kerinduan eforia musik Malang 70-an. Akhirnya, atas dukungan KPK, beberapa musisi legendaris Malang pada 8 Agustus 2009 mendirikan Galeri Malang Bernyanyi (GMB). Mereka adalah Donny Handono, Sigit Hadinoto, Prasetyo Sudomo, dan Sylvia Saartje. ”GMB menghimpun barang-barang bersejarah yang terkait dengan musik. Seperti, PH, kaset, CD, VCD, peralatan music player, instrumen, memorabilia, foto, poster, majalah, buku, kliping tulisan dan lain-lain,” urai kakak kandung ketua DPRD Kabupaten Malang Hari Sasongko tersebut.
GMB, kata Retno, juga digawangi oleh musisi top tanah air, yakni Ian Antono sebagai Penasihat. Sedangkan pengurus sementara saat ini adalah Hengki Herwanto, Efendi, Ateng Agus Saksono, Hari Kangean, dan Slamet. ”Saat ini sudah terkumpul 4.140 koleksi. Itu hasil sumbangan dari 183 penyumbang. Koleksi-koleksi tersebut bukan milik perorangan, tetapi tetap milik organisasi yang nantinya dibentuk oleh para penyumbangnya.

Galeri Malang Bernyanyi 10

Sumber : Malang Pos